Pages

Senin, 29 Maret 2010

Bahasa Tubuh SBY

KASUS Skandal Bank Century di tataran Dewan Perwakilan Rakyat telah berakhir manis Rabu malam (3/3/10) dengan mengantongi kemenangan bagi opsi C. Sebelumnya, ada tiga opsi yang diperebutkan anggota dewan dalam voting rapat paripurna DPR. Adalah opsi A, B, dan C. Opsi A, berisi kebijakan yang wajar, karena kebijakan yang menguras kantong negara senilai Rp 6,7 triliun diambil dalam kondisi Indonesia pada waktu itu terimbas dampak krisis global.Opsi B, bersifat netral alias nihil.Sedangkan opsi C, bersifat sebaliknya.
Opsi terakhir ini mendeteksi adanya indikasi pelanggaran dalam Skandal Bail Out Bank Century.Seiring bergulirnya waktu, rajutan permasalahan pascapilihan opsi C seolah menjadi semakin rancu.Banyak catatan hingga saat ini urung terpecahkan adalah bagaimana merubah logika politik menjadi logika hukum? Dalam arti, logika politik yang dimainkan DPR lewat hak perogratifnya (angket, dll.) bisa menjadi logika hukum atau kebijakan hukum yang tetap yang dapat menjerat para pelanggar hukum, terutama dari sudut politik praktis.
Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, rona mimik was-was tampaknya terpancar dari sikap Presiden RI ke-5, Dr H Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah mendengar pernyataan beliau yang secara sengaja disiarkan langsung di layar kaca, maka pada posisi inilah sejumlah asumsi dasar yang semula dijadikan land mark oleh SBY ini menuai keraguan banyak pihak.Namun bagi saya, sikap SBY yang terpancar dari bahasa tubuhnya mengindikasikan adanya suatu sikap ambivalensi atau bermuka dua dalam diri seorang SBY.
Satu sisi ia membuka setengah pintu kepada khalayak mengoreksi kebijakan dirinya dan anak buahnya yang memungkinkan sarat dengan pelanggaran. Namun di sisi lain mencoba melindungi dua orang kesayangannya, Boediono dan Sri Mulyani Indrawati dengan berbagai cara. Bahkan tak jarang, dengan cara-cara yang fenomenal yang dapat menyudutkan lawan politiknya.
"Sikap ambivalensi ini dengan rapih ditunjukkan SBY dalam bahasa politiknya. Dibalut dengan pernyataan khasnya yang cenderung santun dan berwibawa, SBY seolah ingin menegaskan kepada masyarakat Indonesia bahwa dalam kasus skandal Bank Century tidak ada rekayasa ataupun indikasi pelanggaran dalam fase pengambilan kebijakan.Tentu, sikap yang demikian tampaknya jarang dimiliki oleh seorang pemimpin dunia. Hanya pemimpin negara tertentu yang mampu melakukan kibulan tingkat tinggi seperti ini."
Maka, jika sepintas menengok slogan yang beliau usung dan gembar- gemborkan tempoe dulu, agaknya slogan demikian jauh dari substansi yang jelas. Dan hal ini secara langsung akan menimbulkan adanya suatu disconnection antara ucapan dan tindakan.
Lepas dari itu, saya percaya bahwa SBY adalah seorang pemimpin bangsa yang berdedikasi tinggi terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia. Ia ibarat sosok ayah pekerja keras yang mampu bertanggungjawab demi memakmurkan sanak keluarganya.
Bak ayah ia juga berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya dalam segala hal. Jika sang anak melakukan kesalahan, figur sang ayah wajibnya memberi imbauan, pelajaran serta melakonkan figur teladan yang dapat ditiru anak-anaknya.Inilah sikap yang menurut saya selalu terpancar dari bahasa tubuh SBY, meski dalam beberapa permasalahan beliau tidak dapat melakonkan sikap sebagai seorang ayah yang baik. Dan hal ini secara jelas tertuang dalam balutan sikap SBY membela anak buahnya secara berlebihan dalam skandal kasus bank Century, yakni Boediono dan Sri Mulyani.
Nah, berangkat dari sini, pemahaman yang luas terkait arti demokrasi di Indonesia agaknya telah diperankan dengan baik oleh SBY.Meski dalam praktiknya menuai banyak koreksi atas lawan politiknya, namun acapkali tindakan yang dipelopori orang nomor satu ini dapat mengilhami seseorang dalam menjalankan kegiatan berdemokrasi yang sehat. Dan hal ini tentunya menunjukkan adanya kontribusi lebih terhadap arti pentingnya demokrasi walau pada demokrasi pada saat ini miskin substansi.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
>>>Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) akan menyelenggarakan Rukyatul Hilal penentuan awal Ramadhan 1433 H pada Kamis (19/7) sore bertepatan dengan 29 Sya'ban 1433 H di berbagai titik di Indonesia. Warga Nahdliyin dihimbau dapat berpastisipasi dalam kegiatan tersebut >>>Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email: redaksi@nu.or.id. Tuliskan subyek atau judul artikelnya untuk memudahkan redaksi.